Aug 20
Menyerang tradisi panjat pinang dari sudut pandang tertentu sepertinya jadi kerjaan baru, setidaknya itu yang kulihat dalam minggu-minggu perayaan hari Kemerdekaan RI yang ke-64. Dua sumber; satu dari koran dan satu dari televisi, dengan jelas menekankan betapa tradisi panjat pinang harus di-”retas” ulang karena dianggap menggambarkan kondisi rakyat yang bergelimpangan dalam lumpur kemiskinan. Dengan jelas dilafalkan, bahwa tradisi tersebut adalah sebuah bentuk sindiran dari kalangan bawah untuk para pemimpin bangsa yang terbalut kenyamanan di atas sana.
Ya, orang bebas berpendapat, tapi aku memaknai panjat pinang dengan cara yang berbeda.
Mau tahu makna yang kudapat?
Aug 26
Semalam aku tidur di rumah. Iya, gak tidur di kantor. Penyebabnya? Karena gak jadi maintenance ke Mich.net di Kp. Lalang (berhubung kekurangan pasukan buat angkut alat berat). Tapi alasan utama sih gara-gara koneksi Supidi yang kata operator 147-nya, PUTUS SATU KOTA MEDAN.

Jadi ceritanya aku dapat tontonan bagus tuh. Kalau gak salah, nama program acaranya, Mata Kamera. Tema yang diangkat tentang Nasionalisme, mungkin dalam rangka memperingati 63thn Kemerdekaan Indonesia yah? Ada satu kesimpulan yang aku dapat. Bahwa rasa Nasionalisme di diri rakyat kita (Indonesia) itu, sebenarnya gak pernah berkurang. Walaupun banyak contoh kasus yang menunjukkan “kekonyolan” bangsa ini: Mau tahu contoh kekonyolannya..
Jul 17
Ada kejadian yang bikin miris tadi pagi. Ketika Kadal sedang recok-recoknya ngatur strategi buat ngalahin tim lawan, waktu Oskar lagi mencak-mencak kebingungan karena tembakannya gak ada yang kena. Sebuah suara, tanpa kuda-kuda awal; atau ucapan selamat pagi apalagi permintaan ijin untuk berbicara, tiba-tiba saja merusak suasana permainan.
“Mana, boss-mu?”
“Bendera.. Pasang bendera!”
“Gak mau tahu aku. Nanti ku obrak-abrik tempat ini”
Kira-kira itu bagian dari dialog yang saya ingat, dan bisa dikutip untuk menekankan (dengan sengaja) betapa cara seseorang menyampaikan pendapat bisa begitu tidak mengenakkan.

Cerita lengkapnya..