Kata orang tua, “laki-laki itu harus kerja supaya punya harga diri”. Dan seiring prilaku kita sebagai manusia, bias pun hadir dalam interpretasi kata “kerja” tersebut.
Kata kerja itu kata dasar toh? Jadi yang penting kan kerja, gak harus “dipekerjakan” atau “mempekerjakan” atau “ada kerjaan”. Mau jadi karyawan buat orang lain, atau mau buka usaha sendiri, asalkan keluar keringat maka menurutku semua sah-sah saja.
Saya sering mengalami ini dalam percakapan dengan orang luar sono, ditanya;
What do you do for living?
Mereka sepertinya punya kecenderungan untuk menanyakan hal yang mendasar, tanpa mengarahkan kita untuk memberi “jawaban yang betul”. Berbeda dengan kebanyakan teman-teman orang tuaku, yang kalau nanya;
Kerja dimana kau sekarang?
Menurut kebiasaan di tempat tinggal saya, kalimat tanya seperti itu membutuhkan jawaban yang dimulai dengan “Saya kerja di perusahaan titik-titik”
























