Mar 27
vox populi vox dei
Suara rakyat (adalah) suara Tuhan, kurang lebih begitu lah arti kutipan di atas. Dan terkait aksi unjuk rasa menolak kenaikan harga BBM belakangan ini, setelah dipersiapkan dengan baik, sepertinya rakyat Indonesia menyampaikan langsung suaranya ke jalanan. Langsung menunjukkan protes terhadap rencana/kebijakan pemerintah. Ya, langsung-langsung saja, cukup sudah dengan para wakil rakyat yang kemarin dipilih itu.
Aku bukannya tidak setuju dengan aksi demonstrasi yang kemarin sudah bikin panik segelintir penghuni Medan (dan hari ini juga semoga tidak ada yang panik berlebihan di Jakarta), hanya saja aku tidak ingin menyemangati orang yang salah.

yang di sini biar awak aja yang amankan, teman2 lain coba awasi yang di Polonia ya..
Baca kelanjutannya.. »
Mar 18
Sebagai sosok manusia yang tidak sempurna, saya juga pernah mengeluh. Seperti pada postingan sebelumnya, saya mengeluh tentang kondisi jalanan kota Medan yang macet karena masalah parkir yang semrawutan. Hal ini tidak lepas karena pertambahan kendaraan yang berlangsung terus menerus, entah itu kendaraan milik pribadi atau kendaraan pengangkutan umum.
Barangkali kebutuhan masyarakat akan kendaraan pribadi, didasarkan kepada kebutuhan akan keleluasaan berpindah tempat yang tidak terbatas kepada rute trayek (sebuah jasa yang sudah diakomodir oleh angkot kota Medan). Terkait isu ini, sebenarnya sudah ada opsi yang sejak jaman-entah-kapan sudah hadir di kota Medan, yaitu becak dan taksi serta ojek (walaupun yang terakhir belum meng-cover seluruh kota Medan).
Entah siapa yang memulai, tapi untuk ketiga jenis angkutan tersebut, selama ini sistem tariff yang berlaku adalah “nego harga” antara pengemudi dengan calon penumpang. Jika harga yang dirasa cocok, barulah status calon penumpang beralih menjadi penumpang. Ya.. ketiga-nya, taksi pun tak terkecuali. Sesuatu yang janggal mungkin bagi Anda yang mengenal taksi dengan sistem argo. Seperti kata orang sini
ini Medan, bung
Tak heran saya dulu sempat terkejut ketika berada di kota Jakarta, dimana teman-teman kerap menggunakan jasa taksi dengan benar-benar nyaman. Tinggal stop, langsung naik, dan sebut tujuan.
Baca kelanjutannya.. »
Feb 03
Tadi baru ngebaca blog si upiler, tentang semrawutnya jalanan ibukota, yaa.. lagu lama sebenarnya kan? Buat yang tinggal di ibukota, mungkin iya, sekarang permasalahanku.. Medan juga sudah mulai ikut-ikutan mengalami yang namanya macet. Jelas penyebabnya pertambahan jumlah kendaraan bermotor, sementara jalanan jarang nambahnya

Sehari-hari memang aku jarang keluar di pagi/siang hari, gak ada itu aktifitas rutin “ngantor” seperti yang mungkin banyak teman-teman alami (apalagi pakai nimbrung tabrakan bareng bus). Kalaupun aku harus keluar dari rumah atau basecamp, pastilah jika hari sudah gelap (soalnya aku tidur di siang hari). Hingga kemarin, ketika mengantarkan adikku ke tempat kerjanya. Baru kusadari Medan benar-benar crowded di siang hari..
Kalau jalanan dipenuhi oleh kendaraan bermotor (akibat pertambahan unit-unit kendaraan baru), apakah artinya perekonomian rakyat kita emang sedang bagus-bagusnya? Atau cuma manifestasi dari..
yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin

Baca kelanjutannya.. »