Siang tadi, sebelum tidur, aku terhenti dari aktifitas pindah-pindah saluran TV ketika presenter Archipelago Metro TV – Prita Laura, menyebutkan satu kalimat yang mengandung kata “blogger wisata“.. sontak jari yang sudah beberapa lama pencet-pencet tombol channel terhenti. Penasaran, karena si Ndro yang kerjaannya melalak, setahuku sekarang jadi pegawai negeri.. apa dia yah yang masuk tipi?
Segera aku ambil PW di atas tempat tidur, dan mulai mengikuti acara ini dengan segenap tenaga yang masih bersisa.
Ternyata perjalanan kali itu, bintang tamunya seorang blogger, lebih spesifik lagi: Trinity (nama pena), seorang blogger wisata, yang sudah membukukan tulisannya (Naked Traveler 1 & Naked Traveler 2). Dan dalam acara kali itu, tujuan perjalanan mereka adalah Sumba!
Oke, aku bukan mau ngebahas tentang seru-serunya mereka naik kuda atau pantai yang luar biasa indah yang turut ditampilkan dalam perjalanan tersebut. Tapi ada satu scene yang bikin aku tergelitik, yaitu ketika mereka memasuki areal Kampung Adat (sebuah areal dimana modernisasi belum “mencemari” kehidupan masyarakatnya). Disana, setiap wisatawan yang masuk, mencantumkan namanya pada sebuah buku tamu. Sambil membuka-buka lembaran buku tamu tersebut, Trinity berkata
Sepertinya yang orang Indonesia, baru kita nih

Ternyata di dalam buku tamu itu, ada begitu banyak nama wisatawan yang asal negaranya macam-macam; seperti Belgia, Belanda, dll. Intinya, mereka itu wisatawan dari luar negeri. Trus yang “Indonesia” kemana?
Entah lah ya, aku pun gak bisa menjawab kenapa kejadiannya seperti itu. Apa orang kita kurang merekomendasikan tempat-tempat wisata dalam negeri (kaitannya dengan “words of mouth marketing“), atau promo wisatanya yang kurang gencar? Kalau yang terakhir, aku kurang yakin itu jadi penyebabnya.. Buktinya, orang di luar negeri aja bisa sampai datang. Nah lo? Atau orang Indonesia aja yang malas ngisi buku tamu?
Kenali Tempat Wisata Lokal Kita
Sama halnya dengan road-trip ke Tangkahan beberapa waktu lalu. Walaupun menurut guide lokal, ada juga wisatawan lokal yang datang, tapi dari sekian banyak teman dan kerabat yang nanya “kemana aja Nich, seminggu belakangan gak nampak?” Ketika aku sebutkan nama “Tangkahan”, tak satu pun pernah melakukan kunjungan ke tempat yang kusebutkan tadi. Malahan aku dihujani dengan pertanyaan “Ada apa disana?”, “Berapa lama dari Medan?” dan pertanyaan lain yang senada. Jadi lah aku lakukan pendekatan “words of mouth marketing“.
Sayang ‘kan kalau kita cuma bisa menyalahkan pengelola karena kurang derasnya aksi promosi terkait potensi pariwisata lokal, toh juga pada tayangan Archipelago di Sumba tersebut, jelas terlihat tidak ada pengelola tapi tetep aja mereka bisa. Murni lho, masyarakat setempat yang berinteraksi dengan pengunjung. Sama tidak-bergunanya kalau kita berusaha menyalahkan Dinas Pariwisata pemerintah daerah, kalau toh kita sendiri belum pernah dan gak tahu apa yang mau di-promosi-in tentang potensi pariwisata lokal kita.
Aku bukan mau ngajarin atau sok-sok pintar, tapi semoga tulisan ini dibaca si pelalak yang sekarang masih tertahan di Jogja, supaya kalau dia sudah ditempatkan di Manado.. lancar juga terlaksana niatku untuk mengunjungi Bunaken!























Pingback: Tweets that mention Mari Kenali Tempat Wisata Lokal - Nich bukan nik atau nih -- Topsy.com