Ada kejadian yang bikin miris tadi pagi. Ketika Kadal sedang recok-recoknya ngatur strategi buat ngalahin tim lawan, waktu Oskar lagi mencak-mencak kebingungan karena tembakannya gak ada yang kena. Sebuah suara, tanpa kuda-kuda awal; atau ucapan selamat pagi apalagi permintaan ijin untuk berbicara, tiba-tiba saja merusak suasana permainan.
“Mana, boss-mu?”
“Bendera.. Pasang bendera!”
“Gak mau tahu aku. Nanti ku obrak-abrik tempat ini”
Kira-kira itu bagian dari dialog yang saya ingat, dan bisa dikutip untuk menekankan (dengan sengaja) betapa cara seseorang menyampaikan pendapat bisa begitu tidak mengenakkan.

Secara singkat:
Pejabat kelas Lingkungan datang ke warnet dengan maksud mencari penanggung jawab yang mau di-”ingatkan” untuk memasang bendera. Saya tidak tahu secara pasti event apa yang mau disambut dengan bendera (yang dibicarakan si Bapak). Apakah penyambutan 17 Agustus, sebagai perayaan hari kemerdekaan NKRI. Atau mungkin si Bapak pingin tiap kali dia ngelintas, para penghuni lingkungan wajib menaikkan bendera sebagai tanda penghormatan.
Sebenarnya kami (yang ada di TKP-Tempat Kejadian Perbincangan) tidak pernah menerima instruksi atau himbauan secara langsung, ntah itu dari Penanggung jawab ruko, Pemko atau bahkan Presiden sendiri, tentang pengibaran bendera di lingkungan kami. Mungkin pemberitahuan itu sudah pernah disampaikan ke sang penanggung jawab tetapi tidak diteruskan ke kami, atau mungkin itu adalah suatu informasi publik yang setiap orang seharusnya sudah pada tahu (dan kami mengabaikannya). Kalau oleh karena itu kami dianggap pantas untuk di-cap sebagai orang yang tidak patuh aturan, hey.. ain’t got no problem.
Justru yang bikin aku penasaran, jangan-jangan ada maksud dari intimidasi yang dilakukan si Bapak tersebut. Pikir-pikir lagi, kalau pun karena gak pasang bendera kami dikenakan suatu sanksi. Yang nanggung kami, toh? Atau jangan-jangan si Bapak dalam penilaian performansi kerjanya, mendapat nilai minus karena Lingkungan yang dia *so-called* ayomi tidak bersikap 100% nasionalis dalam penyambutan 17 Agustus. Rasanya kemungkinan yang terakhir itu, paling cocok motif-nya. Makanya cara ngomong beliau tadi, penuh intonasi gak enak.
Sayang saya hanya memiliki wewenang terbatas di dalam gedung ini, kalau enggak.. bisa kita panjangin tuh ribut di pagi hari. Secara anak mudanya baru sarapan nasi campur, plus segelas kopi hitam.

Seharusnya dia lihat apa yang kami lakukan tadi, sewaktu kami sedang ber-Gunbound-ria. Kami satu tim, mengusung kode negara ID, berjuang menaikkan harkat dan martabat karena ada yang melecehkan negara kita. *Puas banget ngehajar tuh “MY”-an*

Hei, setidaknya gejolak rasa nasionalis kami timbul dari dalam hati sendiri. Bukan karena ditegur teman sebangsa-setanah-air, yang merasa dirinya lebih nasionalis dari kami.
Ini bukan lah suatu usaha pembenaran, tapi apa benar nasionalisme ditentukan “hanya” dari pengibaran bendera di halaman rumah selama sebulan penuh menjelang hari Kemerdekaan? Atau kah penyematan bendera-bendera kecil pada spion kendaraan bermotor?
-
http://www.pardosa.co.cc pardosa
-
http://thegands.wordpress.com the gands
-
http://kochukage.blogspot.com/ kochu
-
http://nichpakaich.net nich
-
http://aintanangel.blogspot.com hans
-
http://oktasihotang.com okta sihotang
-
http://raeyans.blogspot.com/ You-Know-Who
-
http://bazt.wordpress.com/ Xzbazt
-
http://pieps.wordpress.com pieps
-
http://myryani.wordpress.com My
-
http://medan.dagdigdug.com medan
-
http://realylife.wordpress.com/2008/07/15/banner-ku-hilang/ said
-
http://astridsavitri.blogspot.com astridsavitri
-
http://elmosphere.com elmo
-
http://love.bumi-langit.com Bumi & Langit
-
http://thegands.wordpress.com the gands
-
http://adieska.net Adieska
-
http://blog.ngetrend.com/ecko Ecko






















