Curhat Upacara Bendera

Celoteh Komentar?

Ada sedikit curhat ku kali ini. Walaupun maunya ini bisa dijadikan sebuah wejangan, tapi berhubung ingat-umur, aku sadar tak pantas berlagak bijak.

Bagi teman-teman yang sekarang menginjakkan usia dua-puluhan, mungkin masa sekolah kalian dulu tidak jauh berbeda dengan yang ku alami. Mungkin waktu SMA kita sama-sama sering berteriak “woooo..” (walau beberapa ngakunya sudah pakai teriakan “SOB“). Mungkin kita dulu sama-sama sering meratapi hari Senin karena harus baris dalam upacara bendera. Tapi yakinku, sekarang semua sudah lupa akan perasaan itu. Sudah sedikit diantara kalian yang ku kenal, melakukan upacara di masa-masa sekarang ini.

Sewaktu aku masih kerja di Batam, aku pernah ikut dalam barisan upacara peringatan 17 Agustus. Tanpa topi, tetapi tetap berseragam. Dan jujur, aku mengalami sebuah euforia waktu itu. Rasa senang luar biasa!
Kenapa?
Karena upacaranya tidak perlu pakai topi! Aku tidak perlu takut disetrap – dengan berdiri di titik yang bisa dilihat oleh semua peserta upacara – dijadikan contoh barang ‘cacat’ karena tidak pakai topi.

Jujur, aku tak menilai nasionalisme dari kehadiran di dalam barisan upacara setiap hari Senin (atau hari besar Nasional). Aku juga tidak menghakimi orang-orang yang menganggap bahwa kegiatan upacara itu adalah sesuatu yang hanya merepotkan dirinya saja. Kalau cuma sampai “menganggap” sih, tak apa-apa menurutku – wajar saja toh kalau seseorang mendefinisikan perasaannya dengan bahasanya sendiri?
Semoga para mantan guru PPKN-ku dulu tak menangis seduh-sedah membaca tulisanku ini.

hormat-merah-putih

hormat-merah-putih

Tetapi jika ada kesempatan untuk turut dalam sebuah barisan upacara, rasanya aku tak akan tolak kesempatan itu. Ingin rasanya kembali menyanyikan lagu kebangsaan “Indonesia Raya“; atau dengan tulus melakukan hening cipta sejenak untuk mengenang jasa-jasa para pahlawan; atau bersama-sama melafalkan “Pancasila
Jadi ingat ada seleb yang gak tahu bunyi salah satu sila, atau jangan-jangan emang dia tak hapal semua sila? ntah lah..

Masih ingat aku sewaktu BloggerSUMUT ingin turut ambil bagian dalam upacara 17 Agustus di Lapangan Merdeka (Medan); ada sedikit ganjalan karena tak-jelas-nya birokrasi buat mengikutsertakan BS dalam barisan upacara. Walaupun demikian, kita wujudkan perayaan 17-an itu dengan sebuah agenda bersih-bersih monumen. Yah, memang aku tak ikutan disitu. Semangat Kemerdekaan-ku ternyata tak sejalan dengan bioritmik-ku yang kacau.

Kerinduan itu ada, kesempatan pun sebenarnya ada, tetapi yang namanya halangan selalu hadir disaat aku butuh alasan. Dan 17 Agustus kali ini pun, aku pasti tak bisa ikut dalam barisan upacara
:phew:

Buat yang 17 Agustus nanti akan menghadiri upacara bendera, ku titipkan semangatku lewat kalian.

Be Sociable, Share!
Posting Terkait:
 
  • http://www.trickstory.info TrickStory

    :hiks: bung karno pun tharu bacanya

  • http://suliskebumen.blogspot.com sri sulistyowati

    Bagi PNS upacara yang dilaksanakan tiap hari Senin tersebut merupakan komitmen yang harus dilaksanakan dengan baik, untuk mewujudkan aparatur yang memiliki integritas, disiplin yang tinggi, dalam upaya menyumbangkan kinerja terbaik bagi masyarakat, bangsa dan negara.Selain itu, upacara tsb untuk menumbuhkan jiwa nasionalisme

    • nichpakaich

      sukses buat PNS!

  • Pingback: Arti Sebuah Rasa Nasionalisme « rizalrezki

WP Theme & Icons by N.Design Studio :: Retouched by Nichive·Remaja
Entries RSS Comments RSS Log in

Switch to our mobile site