Seharian aku dicekokin dengan liputan seputar insiden peledakan bom di hotel Ritz Carlton dan JW Marriot. Walaupun di televisi (tanpa maksud merendahkan) videonya cuma yang itu-itu aja, tapi ujung-ujungnya aku jadi sedikit miris melihat situasi selepas peledakan bom tersebut.
Gimana gak miris, dua hal yang kuperhatikan adalah
- Korban disiapkan buat disyut dengan pose paling memilukan
- Massa lebih sor bikin liputan amatir

Awal membuka mata hari ini, siNyo sibuk berceloteh soal MU gak jadi datang ke Jakarta. Aku belum tanggap apa maksud omongannya. Setelah lompat ke kost sebelah (yang channel TV-nya dapat lebih banyak), baru lah aku tahu apa yang sedang terjadi di daerah Mega Kuningan.
Liputan awal, sudah cukup memberikan informasi bahwa ada bom yang diledakkan di hotel JW Marriot dan Ritz Carlton sekitar pukul 7.40 (wajar kalau aku masih tidur). Tidak sedikit korban jiwa yang jatuh, dan lebih banyak lagi luka parah. Belasungkawa ku untuk keluarga yang ditinggalkan..
Ada sosok yang paling jelas mendapat perhatianku, yaitu Timothy McKey (presdir PT. Holcim Indonesia). Sebenarnya bukan jabatannya yang penting, tapi penanganannya sebagai korban insiden – yang menurutku luar biasa. Bagaimana gak luar biasa – setelah mendengar kesaksian Pak Alex, yang menjelaskan tidak ada respon cepat untuk menangani korban – tak pelak korban meninggal. Kusayangkan cerita tentang Pak Pulisi yang gak mau ngasih pinjam mobilnya buat sebuah kesempatan untuk menyelamatkan satu nyawa

Dari sedemikian banyak massa yang hadir, sedikit sekali yang benar-benar meningkatkan efisiensi proses pertolongan. Selain sibuk bikin rekaman video amatir, peran massa yang meramai-ramaikan terlihat cuma bikin sesak jalan – sehingga kendaraan dan bala bantuan tersendat. Walaupun beberapa memang menjadi pahlawan pada hari ini buat banyak orang.
Bukan aku tak mau mengerti masalah kepanikan yang terjadi, tapi kalau sempat mainin hape buat ngerekam, kaya’nya cukup mampu buat setidaknya ngasih P3K ke para korban. Payah! Mungkin harusnya latihan kebakaran, atau latihan gempa bumi, atau latihan kecelakaan lebih banyak diadakan mulai masa sekolah dasar. Supaya orang-orang Indonesia ini tahu bagaimana bersikap kalau ada insiden yang terjadi.
Atau jangan-jangan, semua sibuk bikin video amatir buat dijual yah? Kudengar-dengar content ekslusif begitu, berharga mahal bagi media massa… Kalau emang benar, berarti wajar aja sedikit koleksi video yang diperoleh stasiun TV (padahal kalau foto tragedi Mega Kuningan, sebentar juga bisa dilihat di internet)
























Pingback: Karawaci Itu Bukan Pejambon apalagi Pejaten « 404 Blog Page
Pingback: OJAK AJA | Kewarasan Bangsa