Saya baru saja teringat akan kejadian yang sudah lama berlalu, akibat usaha keras untuk memformulasikan sebuah tulisan kira-kira 3 tahun lalu, sewaktu saya masih bekerja sebagai seorang pegawai kantoran di Batam. Seorang pemuda yang berkesempatan untuk berada di zona nyaman, setidaknya untuk kurun waktu 4 tahun. Waktu itu pekerjaan saya adalah sebagai seorang programmer, mengabdikan diri untuk sebuah perusahaan yang terbilang sangat mapan. Jika masalah pendapatan, saya rasa untuk pemuda lajang yang dengan gampangnya langsung “merasa tertekan” kalau berurusan dengan pulsa buat nelpon pacar, apa yang saya peroleh terbilang besar. Dan lingkungan kerja saya pun sangat bersahabat. Baik itu orangnya, atasan (dan atasannya atasan) saya, maupun tempatnya. Kantor saya waktu itu, jika diukur berdasarkan tingkat ergonomis buat pegawai normal, adalah jauh lebih nyaman dibandingkan basecamp saya sekarang ini. Yang tingkat ergonomisnya cukup buat orang yang doyan ngeblog.
Prima-causa
Saya bisa ada di tempat itu, saat itu; sebab saya telah mengenyam pendidikan. Mengalami proses belajar mengajar di PI-Del selama 3 (tiga) tahun, dan memperoleh gelar Ahli Madya (yang atas pertimbangan cuek, tidak pernah saya gunakan sebagai embel-embel nama). Hal itu membuka jalan bagi saya untuk mencapai titik dimana saya berada (saat itu), menjalaninya dan menikmatinya. Lalu setelah beberapa waktu, seiring dengan ramainya persimpangan di dalam runutan jalan hidup, saya sekarang berada disini-saat ini. Saya yakin, tidak semua orang akan menganggap bahwa pekerjaan saya saat ini adalah pekerjaan terbaik di dunia, atau pola hidup terbaik di dunia. Tetapi ketika saya mensyukuri, saya mengerti, bahwa pendidikan lah yang telah membawa saya ke titik ini.
Pendidikan itu Penting
Dari sekian banyak faktor penentu, bagi saya pendidikan lah yang paling memegang peranan penting. Bukan karena saya senang atas setiap pencapaian saya dan mengklaimnya sebagai “hasil keringat sendiri” atau “karena kehebatanku” atau “karena kemampuan orang tuaku”. Tetapi karena memang pendidikan menjadi nilai tawar kemampuan seseorang, di (hampir) semua jenis bidang pekerjaan. Disini semua terukur dari pernyataan hitam di atas putih, oleh karenanya pendidikan formal dipandang lebih bernilai di atas pengalaman. Sama halnya dengan soft-skill tidak dipandang sebagai prestasi, tetapi murni sebuah aset. Dan saya sedikit emoh dengan yang begituan. Kenapa? Karena tidak sedikit saya kenal orang yang punya keahlian, tapi tanpa materi pendukung yang konkrit (baca: ijajah) akhirnya mengalami keterbatasan pilihan dalam usahanya meningkatkan taraf hidup. Walaupun tetap ada beberapa orang dari kelompok tersebut yang berhasil memanjat tangga kesuksesan.
Jika pandangan saya gampang anda “iyakan”, saya punya pertanyaan; kenapa sampai sekarang, sepertinya peluang bagi tiap-tiap orang untuk menikmati zona nyaman yang pernah saya rasakan, tidak terdistribusi dengan merata? Jangan berkata:
Kalau semua jadi direktur, siapa yang jadi tukang sampah?
“Kalau perlu kita impor tenaga kerja dari Malaysia, atau China buat nyapu jalan, atau ngangkut sampah.. biar ada dulu istilah TKM atau TKC.” Itu jawaban dari saya, yang saya kutip dari seorang teman yang terlupakan siapa orangnya. Mungkin gampang untuk dilihat bahwa tidak semua anak di negeri ini menikmati pendidikan yang layak, atau berkesempatan untuk itu. Mengenai kelompok yang memang tidak mau, kita angkat keluar dari konteks tulisan ini dan letakkan di pojok ruangan saja.
Mereka yang Berusaha
Saya tidak berusaha untuk mengeluh disini, atau mengkritik orang-orang di pemerintahan. Saya hanya bertanya, dan akan menunjukkan apa yang bisa saya, anda dan dia lakukan. Terlepas dari program, kebijakan atau uluran tangan pemerintah. Banyak pihak yang telah berusaha membantu menciptakan kesempatan bagi anak-anak penerus bangsa ini, untuk mendapatkan kesempatan yang baik di dunia pendidikan. Seperti sekarang sedang berjalan program IA-Del Gives Back, yang salah satu targetnya adalah Save Tobasa Education. Jika saya ingat, dulu sewaktu saya di Batam pun, ada banyak program senada yang kerap berkumandang. Tetapi entah kenapa, saya pesimis, antipati, dan cenderung tidak perduli. Padahal saat ini saya bisa begitu bangganya dengan pelaksanaan program IA-Del Gives Back itu. Apa ini karena mereka ini satu almamater dengan saya? Sebenarnya, lebih dari itu. Saya melihat mereka sebagai barisan depan, ujung tombak, pelaku; ketimbang peminta.
Di Batam dulu, saya sempat mengenal Yayasan Tunas Cendekia, yang berhasil menarik perhatian dan logika saya. Mereka adalah sekelompok orang yang mempunya visi: Pendidikan layak untuk semua anak. Dan sekarang saya teringat kembali dengan mereka. Teringat kembali dengan rutinitas saya membuka-buka situs mereka buat melihat perkembangan yang terjadi, bantuan yang disalurkan, dan yang terutama melihat wajah-wajah yang turut ambil bagian (Foto Partisipan).
Dan slogan mereka pun menjadi begitu masuk akal
Semakin banyak yang peduli, semakin banyak yang terbantu
Saya teringat kembali akan harapan saya waktu itu, bahwa saya ingin bisa berkontribusi membantu anak-anak di luar sana untuk mendapat kesempatan dalam mengenyam pendidikan. Saya masih ingat UI-59 tergerak untuk membeli Gelang Solidaritas Kebersamaan, tatkala saya menceritakan tentang kampanye Solidaritas Kebersamaan. Sampai sekarang, setiap anggota UI-59 mengenakan satu gelang. Kami tidak banyak dalam jumlah, hanya ada sekitar 10 orang. Tapi sampai sekarang, semua masih kompak mengenakan gelang merah itu, hanya saya saja yang menyimpannya baik-baik karena takut kalau gelang tersebut sampai hilang.
*Ampun Bunda….*
Andai Kesempatan itu Ada
Bayangkan jika kesempatan untuk menikmati pendidikan itu adalah sama-rata bagi adik-adik di luar sana. Bayangkan kalau kita bisa mengeliminasi faktor kemiskinan yang kerap menjadi tantangan terbesar. Walaupun tidak menjamin masa depan secara mutlak, tetapi kembali ke hukum prima-causa tadi; mereka bisa berpeluang dengan memperoleh kesempatan itu. Berpeluang untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik, tidak hanya bagi mereka tetapi juga bagi penerus bangsa lainnya.
Seandainya saya didengarkan, saya ingin kembali membantu mereka. Seandainya saja kali ini ada lagi yang bisa saya ajak untuk ambil bagian, sesuatu yang lebih besar dari UI-59. Sesuatu yang lebih besar dalam jumlah; seperti BloggerSUMUT. Saya mulai mengandai-andaikan komunitas bloggerSUMUT mau ikut mengkampanyekan program Solidaritas Kebersamaan ini. Menyertakan Gelang Merah tersebut dalam Starter Pack Pendaftaran sepertinya ide bagus (Anggota dapat Member Card + Gelang Solidaritas Kebersamaan).
Yah, ide ini tidak ekslusif saya tujukan kepada komunitas dimana saya ambil bagian. Jika saja tulisan ini dibaca dan didengarkan oleh sahabat saya, para blogger lainnya.. lalu ditindaklanjuti. Andai saja itu terjadi, tentunya saya, anda dan dia menjadi bagian dari solusi. Bukan barisan tanya, tak bertanda.
Tidak ada posting terkait
-
http://tongkonanku.blogspot.com/2008/12/blogger-muda-terkaya-di-dunia.html Tongkonan
-
http://tipis.web.id tipis
-
http://pleasedeh.com elmo
-
http://oktasihotang.com okta sihotang
-
http://qisthon.com/ Rajawali kecil
-
http://ojakaja.com ojak
-
http://www.ardi.web.id ardi
-
http://reallylife.info reallylife
-
http://www.belajarngeblog.com Belajar ngeBlog
-
http://realylife.wordpress.com realylife
-
http://parlindungan-sinaga.blogspot.com parlin
-
http://www.tunascendekia.org Yudhis
-
http://afie.staff.uns.ac.id/ afie
-
http://www.silverf0x.com Silverf0x
-
lele






















