Feb 14
Pagi tadi dapat BM di Grup BBM tentang sejarah Valentine versi Tanah Betawi, dua kali
Singkap »
SEJARAH VALENTINE DAY
Konon ada seorang gadis yg namanya si Entin Bin Sueb. Dia jadi rebutan antara cowok Betawi, Sunda dan seorang Meneer Belanda.
Pada tgl 13 Feb 1644 hari Sabtu, ketiganya kebetulan bertemu di rumah si Entin. Mereka berebut dan akhirnya berkelahi…
Ditengah-2 perkelahian, si Entin tdk mau ada keributan mencoba melerai, tetapi salah satu senjata mereka tepat mengenai kepala si Entin.
Sontak warga kampung yg liat kejadian itu lalu berteriak “PALE ENTIN BERDARAH… TUH PALE ENTIN…PALE ENTIN…”
Si entin lalu dibawa ke Rumah sakit, tapi esoknya tgl 14 Februari Entin meninggal.
Untuk mengenang kejadian itu si Meneer Belanda selalu mengadakan acara untuk mengenang Entin yg dicintainya…..
Di belanda dia cuma inget kata-2 warga Betawi “PALE ENTIN…PALE ENTIN…..” Maka jadilah Hari Pale entin atau VALENTIN
HäHäHä…=)) =))
:p :D :p :D :p :D
HäHäHä… HäHäHä…

Eits, tenang dulu, postingan kali ini bukan tentang sejarah Valentine. Kalau mau tahu soal itu, bisa tanya ke Om Google (semoga terhibur dengan Google Doodles versi Valentine).
Jadi tulisan ini tentang apa?
Feb 07
Selasa ini rasanya benar-benar menguras tenaga. Tapi gak jadi masalah, toh ada hasilnya.
Satu kemajuan dalam rencana BloggerSUMUT mewujudkan pembelajaran blog yang progresif (meminjam pemilihan kata Helda). Dalam 2 minggu ke depan, sudah akan ada rangkaian kelas khusus blog untuk teman-teman yang ada di kota Medan.
Dan tidak seperti workshop BS sebelum-sebelumnya, yang hanya mengajarkan tentang cara membuat blog, kelas-kelas yang akan diadakan memiliki materi pembahasan yang lebih lengkap. Peserta akan diajarkan tentang teknis-teknis pengelolaan blog, tips-tips menulis, hingga cara promosi blog. Dan semua tidak diajarkan sekaligus, tetapi selangkah demi selangkah. Mengutip omongan mbak Ollie di gathering @NBCMedan kemarin: “butuh 21 hari untuk menciptakan sebuah kebiasaan” – maka peserta akan diajak untuk menjadi blogger yang sudah terbiasa ngeblog.
Harapannya, ya supaya orang bisa mengelola blog-nya dengan optimal, dan tidak lagi salah kaprah dengan kalimat “blog bisa menghasilkan …” atau pemikiran-pemikiran lain, yang belum tentu applicable buat semua orang.
Lokasinya gak sulit dijangkau, waktunya juga sebelum matahari terbenam, dan frekuensinya sekali seminggu.
Detil lebih lengkap, biar @BloggerSUMUT yang suarakan.
– diposting lewat perangkat mobile –
Feb 04
Bagaimana jika kamu diberi waktu 30 hari untuk membuat sebuah buku karya kamu sendiri?
Hitung punya hitung, untuk membuat buku setebal 100 halaman lebih, dalam 30 hari. Maka untuk amannya, harus kejar-setoran 4 halaman per hari

Well, tantangan itu lah yang kudapat ketika berkesempatan ikut dalam gathering Nulis Buku Club Medan (@NBCMEDAN) di Penang Corner – Jalan Dr. Mansyur, Medan.
Adalah @nulisbuku yang punya ide untuk mengundang siapa saja yang mau belajar untuk menulis buku untuk hadir siang itu. Lalu dengan baik kak Wirda pun mulai gencar ajak sana-sini, bahkan anak sekolahan (siswa SMA Dharmawangsa – Glugur) turut hadir, lho. Disitu aku juga bisa jumpa dengan kak Irda Handayani, yang gencar ngajakin remaja dan mamak-mamak untuk ngeblog. Lalu ketemu sama dua sosok anak sekolahan yang ‘cabut’ demi nyari ilmu tambahan (si Ade dan si Reza)

Mbak Ollie mengisi gathering @NBCMedan
Acara gathering ini diisi langsung oleh mbak Ollie (founder nulisbuku.com) dan mbak Ika Natassa. Banyak tips yang bisa didapat dari pertemuan tadi; Pemahaman tentang komitmen untuk menjaga produktifitas, pentingnya dalam menetapkan target, dan hal-hal yang perlu dilakukan dalam mempersiapkan sebuah buku, disampaikan langsung oleh mbak Ollie yang sudah berpengalaman di bidang penulisan buku (mengklaim sudah menerbitkan 20 buku). Dan untuk materinya, dengan baik sekali mbak Ollie sudah membagikannya di Slideshare:
Baca kelanjutannya.. »