Saya Dukung Ujian Nasional

Celoteh 3 Komentar »

Kunci sukses Ujian Nasional itu sebenarnya sangat, sangat, sangat sederhana;

Jawablah semua soal dengan baik dan benar.

Sedikit terusik dengan beberapa argumen yang beredar (sejak beberapa tahun lalu)

  • Bagaimana mungkin, masa belajar 3 tahun ditentukan oleh 1 Ujian Nasional?
  • Kenapa juga musti Ujian Nasional, kalau toh ketika mau lanjut kuliah tetap saja ada ujian lagi?
Rumusan Nilai Akhir Kelulusan UN

Rumusan Nilai Akhir

Ya, untuk point pertama, barangkali semua sudah tahu bahwa sekarang ada porsi nilai 60%-40% dimana nilai UN hanya mengisi 60% dalam penentuan kelulusan siswa dan 40% sisanya diambil dari nilai ujian sekolah dan nilai rapor. Gak enak bagi yang nilai UN-nya bagus, karena bisa jadi angka akhirnya lebih rendah karena dihitung ulang dengan menggabungkan porsi 40% dari nilai sekolah. Yah, gak papalah, yang penting lulus. Bukan begitu?

Bukan yah?

Menurutku sih, bukan.

Sebelum aku diperkenalkan dengan hitung-hitungan penentuan kelulusan. Sebelum aku diperkenalkan dengan yang namanya EBTANAS (jaman aku sekolah dulu, bukan UN namanya). Ada satu pesan dari guru ku yang selalu kuingat

Kamu sekolah itu supaya dapat ilmu. Jangan ngejar nilai.

Ya, aku bukan anak yang cerdas bin pintar. Rata-rata aja lah. Hanya belajar di ruangan kelas – dan seringnya malah jadi perusuh disaat teman-teman begadang buat menghapal materi kuliah
:ngakak:

Baca kelanjutannya.. »

#Medan26Maret

Celoteh 9 Komentar »

vox populi vox dei

Suara rakyat (adalah) suara Tuhan, kurang lebih begitu lah arti kutipan di atas. Dan terkait aksi unjuk rasa menolak kenaikan harga BBM belakangan ini, setelah dipersiapkan dengan baik, sepertinya rakyat Indonesia menyampaikan langsung suaranya ke jalanan. Langsung menunjukkan protes terhadap rencana/kebijakan pemerintah. Ya, langsung-langsung saja, cukup sudah dengan para wakil rakyat yang kemarin dipilih itu.

Aku bukannya tidak setuju dengan aksi demonstrasi yang kemarin sudah bikin panik segelintir penghuni Medan (dan hari ini juga semoga tidak ada yang panik berlebihan di Jakarta), hanya saja aku tidak ingin menyemangati orang yang salah.

Demo  BBM di Medan

yang di sini biar awak aja yang amankan, teman2 lain coba awasi yang di Polonia ya..

Baca kelanjutannya.. »

Menyelamatkan Sejarah Medan

Celoteh 8 Komentar »

Jangan tertipu sama judul yaa, aku bukan mau terangkan panjang kali lebar sama dengan luas tentang kota Medan koq. Cuma mau berbagi beberapa hal yang ternyata begitu “baru” buat ku yang sudah bertahun-tahun tinggal di Medan ini (dan beberapa hal yang sepertinya orang-orang perlu tahu). Dan agar semua paham konteksnya, tulisan ini aku buat dengan referensi materi #AkberMedan tanggal 29 Pebruari 2012 (dengan narasumber bang Erond L. Damanik – Peneliti PUSSIS UNIMED).

Sebelum kelupaan, berikut adalah beberapa fakta yang aku bagikan lewat twitter selama presentasi berlangsung.

Kapur Barus, berasal dari kata ‘Barus’ yang sebenarnya adalah nama daerah penghasil chamfer, terletak di pantai Barat Sumatera.

Jadi rupanya di Sumatera, dulu (1826) yang nanam tembakau itu adalah orang Melayu dan orang Batak.

Woo.. kata Medan, berasal dari bahasa India Selatan ‘meidan’ yang artinya ‘luas’ :D #Medan

Jadi rupanya dulu, jalur transportasi yang utama adalah sungai. Karena banyak bangunan (di kota Medan) yang terasnya menghadap sungai.

Astaga, ternyata daerah ‘Helvetia’ itu, aslinya bernama ‘Helvetica’ .. orang #Medan udah melek font dari dulu ternyata :))

Satu lagi, Tanjung Morawa, dulu namanya ‘Moravia’ .. emang lah, orang #Medan ini gak mau ribet. Dibuat gampang semuanya =))

Arnhemia, itu nama asli ‘Pancur Batu’ .. .salahkan @Helda koq jauh gitu jadinya (_ _”)

Eh, tapi di akhir presentasi tentang “mengenal kota Medan” kami disuguhkan dengan fakta yang begitu menggugah. Fakta bahwa banyak situs bersejarah di kota Medan, bernasib tragis.

Kenapa tragis?

WP Theme & Icons by N.Design Studio :: Retouched by Nichive·Remaja
Entries RSS Comments RSS Log in

Switch to our mobile site