Dalam rangkaian road-trip ke Pesta Danau Toba 2009 kemarin, selain menyempatkan diri untuk jalan-jalan ke Tarutung; para biker nekad juga menyempatkan diri untuk nyebrang ke Samosir, mumpung lagi dekat – sekalian aja mengunjungi beberapa objek wisata disana. Dalam perjalanan kali ini, rombongan kami memiliki formasi baru, dengan Ojak dan Roded yang mengisi peran sebagai tenaga ahli fotografi.
Perjalan kami mulai dari Kampus PI-Del menuju Parapat, lalu dari Parapat kami menyeberangi Danau Toba yang indah dengan menggunakan jasa kapal penumpang. Berhubung rencana perjalanan adalah mengitari Pulau Samosir, maka motor-motor yang selama ini menjadi andalan sarana transportasi kami pun turut serta (di pelabuhan Ajibata dan Tiga Raja, penumpang bisa menaikkan motor ke atas kapal – cuma bayar Rp5000/motor)
Setiba di Pelabuhan Tomok, para peserta perjalanan sepakat untuk makan siang dulu berhubung kami sedikit di depan jadwal. Singkat kata, Ojak yang berdomisili asli di Tomok pun di daulat untuk mengatur arah dan tujuan perhentian makan siang kami. Ternyata ada sebuah tempat makan, yang ntah sudah berapa kali aku lewatkan selama ini, menyajikan menu ikan mujair panggang; yang kalau boleh aku bilang benar-benar maknyus! Buat yang penasaran, boleh jajal sendiri, warungnya pas di bagian dalam areal pelabuhan ferry Tomok.
Danau Sidihoni
Tujuan perjalanan yang pertama adalah, Danau Sidihoni atau yang kerap disebut “Danau di atas Danau Toba“.. penasaran kan? Kami pun seperti itu. Awalnya ada argumentasi kuat, antara Ndro dan Pieps, terkait keberadaan danau ini (Pieps punya argumen kuat tentang kenapa selama ini tidak pernah ada promo wisata yang nyata terkait danau tersebut). Tapi akhirnya jadwal keberangkatan pun disusun setelah kami berkesempatan untuk bertanya jawab langsung dengan penjaga stand Pemkab Samosir di Pameran UKM dan Seni Budaya Pesta Danau Toba 2009. Berkat bantuannya kami jadi punya modal brosur plus peta untuk melacak keberadaan danau tersebut.
Ternyata memang ada danau lagi di atas Danau Toba. Letaknya di daerah Pangururan, sekitar sejam perjalanan darat dari Tomok. Tapi dari Pangururan kita masih harus menyusuri jalan mendaki lagi, kira-kira 30menit lah (tenang, kendaraan bermotor masih bisa naik koq). Tuh lihat aja, ada buktinya kalau motor kita bisa naik ke atas (gak mitos, artinya).
Danaunya sendiri memang tidak terlalu luas, kurang tahu pula detilnya.. tapi kalau disuruh lari 10 lap, masih sanggup lah. Masih menunggu masukan lagi, bingung juga kemarin mau tanya-tanya soal danau itu. Darimana asal airnya? Sudah berapa lama disana? dll.. ada yang tahu?
Pantai Pasir Putih
Selanjutnya kami kembali turun ke Pangururan untuk melanjutkan perjalanan ke Pantai Pasir Putih. Seumur-umur pun itu adalah kali pertama aku kesitu, walaupun sudah 2 kali (atau lebih) melintasi daerah Pasir Putih tersebut. Tempatnya berupa pantai (tepi danau) dengan pasir putih, pohon *ntah apa namanya* yang teduh, dan benar-benar cocok buat ngaso karena semilir angin bikin orang benar-benar terbuai.. noh contoh barang di kanan tuh!
Ini adalah perhentian terakhir kami sebelum melanjutkan perjalan kembali ke Parapat. Karena waktu sudah mau sore dan kami masih punya beberapa target yang mau dikejar di areal perayaan Pesta Danau Toba 2009.
Singkat kata, kami pun tancap gas menuju Tomok buat mengejar kapal penyebrangan jam 5 sore. Untung tidak ada masalah, dan kita-kita tiba on-time disitu.
-
Eksar boru situmorang




























