Sabtu kemarin aku sudah kembali ke Medan, sebagai rangkaian dari perjalanan ku membawa tamu BPP-HKBP mengunjungi sekolah-sekolah HKBP di Simalungun, Samosir dan Tapanuli Utara. Sebuah perjalanan yang penuh pengaguman akan keindahan alam, perjalanan yang mengajarkan untuk bersyukur dan menyibakkan banyak hal buat ku.
Ada perasaan puas, haru, dan bahagia.. yang pada awalnya tak kusangka akan datang satu paket dengan pekerjaan yang satu ini.
Perhatian terhadap Pendidikan di Tanah Batak
Tamu yang kubawa adalah rombongan 3 orang dari Lutheran Education for Australia; Meg Noack, Dominique Jaaniste dan Neville Doecke. Orang-orang ini adalah para pengelola pendidikan sekolah Lutheran di negerinya, dan mereka sedang menjalankan program dukungan bagi Perpustakaan Keliling yang dikelola oleh BPP-HKBP. Aku luar biasa terhenyak untuk menyadari, bahwa ada orang di seberang sana yang berusaha semampu mereka untuk mendukung pendidikan generasi penerus bangsa ini.
Fasilitas pendidikan di negeri kita ini, khususnya di Tanah Batak, secara keseluruhan memang belum bisa jatuh pada kriteria “memadai” (tapi kalau SDM-nya, yakinku mantap punya!). Dan yang aku suka dari perjalanan ku ini adalah, aku berkesempatan untuk melihat begitu banyak orang yang berani berbuat dan tidak muluk berbicara untuk menyalahkan pemerintah atas keterpurukan kondisi pendidikan anak-anak di Tanah Batak.
Salut buat orang-orang di Samosir, yang mau bergeliat – menyediakan buku buat anak-anak di daerah pegunungan, walaupun hanya bermodal tas sandang karena jalanan tidak memungkinkan buat diterobos oleh Perpustakaan Keliling tersebut.
Selain mengunjungi Perpustakaan Keliling, rombongan LEA itu juga menyempatkan diri untuk mengunjungi beberapa sekolah HKBP dan turut mengambil bagian dalam Rapat Kerja Guru HKBP di Seminarium Sipoholon, yang tujuannya adalah untuk menciptakan kesempatan bertukar ide bagi para pendidik tersebut. Sehingga para guru dan kepala sekolah mendapat ide tentang metode pendidikan yang dilakukan di Australia, dan juga antar sekolah pun memperoleh kesempatan untuk saling mempelajari metode apa yang efektif untuk membina murid ke arah yang diinginkan. Dan ternyata ada hal-hal baru yang dipelajari oleh orang Australia ini, seperti:
jangan mempekerjakan tukang kebun untuk memelihara taman sekolah, tapi biar siswa yang memeliharanya – karena ini adalah sesuatu yang bisa menumbuhkan sense of belonging siswa terhadap lingkungan sekolahnya..
(Johnson Aritonang & Neville Doecke, SMA HKBP II – Tarutung)
Jangan Ucapkan “Selamat Tinggal”
Satu hal yang kupelajari, adalah untuk tidak mengucapkan “Selamat Tinggal” kepada kawan yang kita kenal. Itu sebuah pelajaran yang kuperoleh dari pengalaman Neville Doecke dan Ruben Marbun, dua insan yang 35 tahun lalu pernah bertemu di Australia.
Ketika rombongan tiba di Pematangsiantar, Neville menunjukkan sebuah foto dan menyebutkan sebuah nama. Neville belum pernah ke Indonesia, dan pada kesempatan ini dia berharap bisa menemukan kembali teman lamanya, karena dia tahu kunjungannya akan membawa dia ke Tanah Batak. Dimana semua orang punya marga, dan saling mengenal satu dengan yang lainnya.
Nama itu adalah Ruben Marbun, yang dulu ketika di Australia belum lah menjadi sosok penting dalam GKPI (sekarang beliau adalah mantan Bishop GKPI). Awalnya aku merasa, mencari seorang Marbun di Indonesia itu bagaikan mencari jarum dalam tumpukan jerami. Tapi kalau emang jodoh, tak kemana.. Pertemuan itu begitu mengharukan, termasuk juga buatku. Karena ternyata sang mantan Bishop, adalah kawan dekat almarhum kakek ku

Secara pribadi, dalam perjalanan ini aku mendapat kesempatan untuk rehat sejenak dari rutinitas (padahal lagi sibuk-sibuknya).. menormalkan bioritmik yang kacau (tiap pagi bangun jam 6).. dan membina hidup sehat (mobil pakai AC, jadilah rokok sebungkus buat 5 hari).. serta menikmati keindahan karya Bapa


























Pingback: Perjalanan Menuju Pesta Danau Toba 2009 - Nich bukan nik atau nih
Pingback: Kilas Balik Perjalanan Nichpakaich.net - Nich bukan nik atau nih